Sudah sembilan bulan berlalu sejak virus korona pertama kali muncul di Indonesia. Pandemi COVID-19 menyebabkan kita harus berdiam diri di rumah untuk mengurangi potensi penyebaran virus korona. Istilah #DiRumahAja yang dulu awalnya terasa seperti libur panjang ternyata tidak seindah dan semenyenangkan yang kita kira. 

Ternyata, pandemi ini membuat banyak orang mengalami stres. Akibat pandemi, kita mengalami perubahan besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kehidupan kita setelah pandemi pun tidak akan bisa sama lagi. Ketegangan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari juga membuat orang menjadi lebih reaktif terhadap peristiwa yang dianggap remeh.

Sebuah penelitian dalam jurnal Biological Psychologhy pada tahun 2018 menemukan bahwa mengalami stres kronis selama enam minggu dapat menyebabkan gejala depresi atau merasakan tekanan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Apa saja hal yang dapat memicu stres di masa pandemi?

Dikutip dari laman Center for Diseases Control and Prevention (CDC), hal-hal berikut dapat menyebabkan stres seama pandemi. Mungkinkah kamu mengalami salah satunya?

  • Ketakutan dan kecemasan akan kesehatan pribadi maupun orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga dan teman-teman yang jauh dari kita
  • Ketakutan dan kecemasan akan situasi finansial, pekerjaan, atau kehilangan sesuatu yang selama kita andalkan
  • Perubahan pola makan dan tidur sehari-hari karena segala sesuatu dilakukan dari rumah
  • Kesulitan tidur dan kesulita konsentrasi
  • Memburuknya masalah kesehatan kronis
  • Memburuknya masalah kesehatan mental
  • Peningkatan pemakaian tembakau, alkohol, atau lainnya

Selain hal-hal di atas, bertambahnya pekerjaan dan biasnya pembagian waktu antara mengurus rumah tangga dengan pekerjaan juga dapat menimbulkan tekanan. Tak hanya kesendirian dan kesepian, sebaliknya, kontak yang terlalu dekat dan sering pun juga dapat menimbulkan percikan argumen dan kekerasan. 

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi stres tersebut?

Dimuat dalam The Conversation, penelitian dari McMaster University menunjukkan bahwa olahraga dapat mencegah depresi akibat stres. Salah satunya dengan berjalan cepat selama 30 menit tiga kali dalam seminggu. 

Rangkuman langkah-langkah dari WHOCDC, dan The Conversation berikut disarankan untuk mengatasi stres di kala pandemi:

  • Sangat normal untuk merasakan berbagai emosi dalam masa-masa sulit ini, baik itu sedih, stres, takut, atau marah. Cobalah berbicara dengan orang-orang yang kamu percaya untuk meminta bantuan
  • Cari tahu fakta-fakta terkait COVID-19 untuk mengetahui penyebab, risiko, langkah penanganan, dan menerapkan tindakan pencegahan. Pastikan sumber informasimu terpercaya, ya!
  • Mendapatkan terlalu banyak informasi juga bisa membuatmu tertekan. Batasi kekhawatiranmu dengan mengurangi penggunaan media sosial yang menyedot ‘energi’ atau membahas pandemi tanpa henti
  • Jika kamu harus berada di rumah, yuk, ciptakan rutinitas hidup sehat, termasuk membuat pola tidur, makan, dan olahraga
  • Menjaga jarak secara fisik dengan orang lain bukan berarti mengurangi interaksi sosial lo! Tetap jaga hubungan sosial dengan teman-teman terdekatmu. Manfaatkan aplikasi conference call bukan hanya untuk kepentingan kerja atau belajar, tetapi juga untuk melakukan kegiatan bersama teman-teman secara virtual
  • Jangan menggunakan rokok, alkohol, ataupun obat-obatan untuk melepaskan diri dari masalah dan emosimu.Cobalah hubungi petugas kesehatan atau konselor
  • Coba ingat-ingat, bagaimana caramu mengatasi stres sebelumnya? Mungkin kamu bisa menggunakan cara yang sama untuk mengelola emosimu

Selain hal-hal di atas, saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan. Tidak ada yang tahu pasti kapan keadaan akan kembali membaik atau kapan pandemi ini akan berakhir. 

Ketidakpastian ini membuat manusia menerka-nerka dan kerap memikirkan skenario terburuk. Namun, terus menerus memaksa diri untuk berpikir positif juga bukanlah cara yang sehat untuk mengurangi stres karena berpotensi membuat kita menyangkal keadaan sebenarnya. Jadi, mari belajar untuk menerima kenyataan, mengelola stres, dan terus berjuang melewati situasi sulit ini.

Kontributor: Caroline Aretha M.

Stres di Kala Pandemi Tak Terhindarkan, Ini Langkah-langkah Mengelolanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *