Saat ini, tes dengan peran terpenting dalam mendeteksi adanya SARS-CoV-2 dalam tubuh manusia ialah reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) test atau yang lebih dikenal dengan istilah swab test. Sampel yang digunakan dalam swab test dapat diperoleh dari saluran pernapasan bagian atas dengan mengusap nasofaring dan orofaring. Namun, pengambilan sampel usap nasofaring memiliki tingkat kesulitan teknis tersendiri, membutuhkan tenaga kesehatan profesional, dan dapat menimbulkan risiko pembentukan aerosol. Selain itu, proses pengujiannya pun memakan waktu yang lama karena RNA dari hasil sampel harus diubah menjadi DNA terlebih dahulu.

Tahukah kamu, ternyata ada metode tes lain untuk mengidentifikasi virus korona dalam tubuh seorang pasien, yaitu menggunakan air liur atau saliva. Salah satu penelitian dalam Journal of the Chinese Medical Association yang dirilis pada Oktober 2020 lalu membahas tes berbasis saliva ini secara mendalam. Menurut jurnal tersebut, air liur, baik dari batuk atau usap oral, adalah sampel klinis yang sah untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Secara kolektif, air liur berpotensi sebagai penentu diagnosis dan berperan dalam mendeteksi COVID-19.

Bagaimana sensitivitas tes berbasis saliva untuk mendeteksi virus korona?

Kit pengujian COVID-19 berbasis air liur yang baru disetujui dibangun di atas TaqPath SARS-CoV Assay yang ada, yang dikembangkan oleh Laboratorium Genomik Klinis Rutgers, untuk mengidentifikasi RNA dari virus secara kualitatif. Pengujian ini menggunakan peralatan yang divalidasi oleh otorisasi penggunaan darurat (EUA) untuk sampel pernapasan, nasofaring, dan orofaring. Untuk melakukan uji saliva, sampel air liur dimodifikasi dan dapat disimpan pada suhu kamar, tetapi harus diproses dalam waktu 48 jam setelah pengambilan.

Dalam sebuah studi, 12 pasien terkonfirmasi positif COVID-19 berdasarkan tes PCR dites ulang menggunakan metode uji saliva dengan sampel air liur yang keluar dari batuk. Hasilnya, 11 pasien dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Sebaliknya, pasien yang dinyatakan negatif dari tes PCR seluruhnya pun dinyatakan negatif lewat tes saliva tersebut.

Hubungan air liur dan virus korona

Berdasarkan penelitian Chen, L., dkk. (2020), kemungkinan besar nilai diagnostik saliva berkaitan erat dengan bagaimana sampel saliva diperoleh. Kesimpulan ini diperoleh karena sampel air liur yang dikumpulkan langsung dari pembukaan kelenjar ludah (salivary glands) memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibanding sampel yang diambil dari pemeriksaan air liur dari batuk.

Selain itu, berbagai penelitian oleh To, K.K., dkk (2020) tentang uji saliva juga mengungkapkan bahwa jumlah virus dalam air liur berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Jumlah virus dalam air liur juga menurun setelah pengobatan, meskipun perbedaan tersebut tidak begitu diperhatikan secara statistik karena ukuran sampel yang kecil. Sebagai tambahan, virus korona masih dapat dideteksi dalam air liur salama 20 hari atau lebih setelah diagnosis awal.

Perkembangan penggunaan tes saliva di dunia

Sejauh ini, pendekatan dan protokol pengambilan sampel air liur untuk tes saliva belum terstandardisasi secara resmi. Namun, tes ini sudah digunakan di beberapa belahan dunia lo! 

Di Amerika Serikat, misalnya. US Food and Drug Administration (FDA) telah memberikan Otorisasi Pengunaan Darurat untuk penggunaan tes berbasis saliva sejak bulan Agustus 2020 lalu. Dalam kasus tersebut, sebuah tim dari Yale School of Public Health mengembangkan alat yang disebut dengan SalivaDirect. Pengambilan sampel dilakukan dengan meludah ke tabung khusus. 

Dengan SalivaDirect, deteksi virus menjadi lebih cepat dan mudah karena hilangnya langkah ekstrasi RNA menjadi DNA yang harus dilakukan pada metode swab test. Selain itu, biaya yang ditawarkan untuk melakukan tes ini juga terjangkau, yakni kurang dari USD10 atau sekitar Rp150.000,00. Selain itu, tes saliva ini bisa dilakukan dari rumah secara mandiri tanpa perlu ke rumah sakit. 

Pada akhirnya, diperlukan data yang lebih lengkap terkait  penggunaan air liur sebagai sampel pendeteksi keberadaan SARS-CoV-2, misalnya penelitian lebih dalam tentang hubungan lokasi pengambilan sampel serta hubungan jumlah virus dengan perkembangan virus korona di dalam tubuh.

Kontributor: Caroline Aretha M.

Referensi:

Chen, L., Zhao, J., Peng, J., Li, X., Deng, X., Geng, Z., Shen, Z., Guo, F., Zhang, Q., Jin, Y., Wang, L., & Wang, S. (2020). Detection of SARS-CoV-2 in saliva and characterization of oral symptoms in COVID-19 patients. Cell proliferation53(12), e12923. https://doi.org/10.1111/cpr.12923

Hung, K. F., Sun, Y. C., Chen, B. H., Lo, J. F., Cheng, C. M., Chen, C. Y., Wu, C. H., & Kao, S. Y. (2020). New COVID-19 saliva-based test: How good is it compared with the current nasopharyngeal or throat swab test?. Journal of the Chinese Medical Association: JCMA83(10), 891–894. https://doi.org/10.1097/JCMA.0000000000000396

To, K. K., Tsang, O. T., Yip, C. C., Chan, K. H., Wu, T. C., Chan, J. M., Leung, W. S., Chik, T. S., Choi, C. Y., Kandamby, D. H., Lung, D. C., Tam, A. R., Poon, R. W., Fung, A. Y., Hung, I. F., Cheng, V. C., Chan, J. F., & Yuen, K. Y. (2020). Consistent Detection of 2019 Novel Coronavirus in Saliva. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America71(15), 841–843. https://doi.org/10.1093/cid/ciaa149

FDA Approves New Saliva-Based COVID-19 Test. Diakses melalui https://www.the-scientist.com/news-opinion/fda-approves-new-saliva-based-covid-19-test-67829 pada 6 Desember 2020.

Metode Lain untuk Deteksi Virus Korona: Saliva Based-Test, Seberapa Akurat, ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *