COVID-19 tidak pernah tidak memberikan sesuatu yang baru setiap harinya. Sekarang, muncul istilah ‘flurona’ yang disebut-sebut sebagai gabungan dari flu dan korona. Jangan sampai tertukar dengan nama senyawa fluorona, ya! Sebenarnya, apakah flurona itu?

Kabar dari Israel

Istilah ‘flurona’ pertama kali muncul dari media massa Israel yang memberitakan seorang wanita hamil terjangkit virus flu dan virus korona secara bersamaan. Kabarnya, wanita tersebut juga tidak divaksin COVID-19. Kasus dua virus menginfeksi seseorang di saat bersamaan ini disebut-sebut sebagai ‘kasus pertama’ di Israel. 

Virus pernapasan pembentuk flurona

Virus flu dan SARS-CoV-2memang sama-sama menyerang pernapasan dan menyebar melalui droplet atau tetesan dari pernapasan. Namun, keduanya menginfeksi manusia dengan mekanisme yang berbeda. Selain itu, kedua virus ini memiliki perbedaan besar pada genom mereka. Virus influenza memiliki genom yang terdiri dari delapan bagian RNA negatif, sementara genom virus korona terdiri dari satu untai RNA positif. Artinya, mekanisme replikasi genom kedua virus itu sangat berbeda.

Tahukah kamu, sebenarnya, virus pernapasan ada di mana-mana. Dikutip dari BBC, terdapat 19 jenis virus yang hidup di paru-paru manusia. Mereka disebut redondovirus, artinya “bulat” dalam Bahasa Spanyol, tidak menyebabkan penyakit, kecuali sistem kekebalan tubuh kita sedang lemah. Virus tidak selalu menyebabkan penyakit. Mereka bahkan berguna untuk mencegah penyakit lain, misalnya yang diakibatkan bakteri, dengan menginfeksi bakteri.

Infeksi virus flu dan korona sudah pernah terjadi sebelumnya

Berdasarkan salah satu studi dari belahan bumi utara menemukan bahwa sekitar 0,8% pasien penderita COVID-19 juga menderita flu. Di Amerika Serikat sendiri, ada 0,4% kasus yang sama. Artinya, meskipun ini bukan contoh kasus koinfkesi yang umum, seseorang dapat terinfeksi kedua virus secara bersamaan. Sayangnya, studi ini tidak menunjukkan tingkat keparahan koinfeksi (infeksi bersamaan) atau peningkatan kematian. Studi lain dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa koinfeksi dengan influenza memang mengakibatkan lebih banyak pasien COVID-19 mengalami kegagalan pernapasan dan membutuhkan alat bantu pernapasan (ventilator).

Mengingat susunan genommya yang berbeda, jika kedua virus itu menginfeksi sel yang sama, mustahil terjadi penggabungan genom yang dapat melahirkan virus hidup dengan karakteristik hybrid atau supervirus. Jadi, jangan sampai salah persepsi akan ‘flurona’, ya! 

Dampak flurona: gejala yang mungkin hingga kematian pertama di Peru

Saat ini, peneliti masih terus meneliti gejala maupun dampak dari gabungan infeksi virus flu dan virus penyebab COVID-19 ini. Beberapa gejala gabungan ialah pneumonia, badai sitokin, dan kerusakan organ yang juga terjadi pada kasus-kasus influenza, respiratory syncytial virus (RSV), pneumokokus, dan patogen pernapasan lainnya.

Dilansir dari CNN, Kementerian Kesehatan Peru melaporkan kematian pertama akibat flurona yang menimpa pasien berusia 87 tahun dengan penyakit bawaan dan belum divaksinasi COVID-19. Selain pasien tersebut, ada dua orang pasien lainnya yang terdeteksi mengidap flu dan COVID-19 bersamaan. Gejala yang dialami pasien-pasien ini, antara lain batuk, sakit tenggorokkan, dan tidak enak badan.

Enggak perlu panik! Baik virus flu maupun virus korona bisa kita cegah dengan menerapkan kebiasaan sehat yang kini diadopsi dalam protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak fisik, menjauhi dan mencegah kerumunan, mengurangi mobilitas, serta menghindari makan bersama dengan orang yang tidak tinggal serumah. Yuk, bersama-sama menuntaskan pandemi COVID0-19!

Kontributor: CAM

Maraknya Kasus Flurona: Infeksi Virus Penyebab Flu dan COVID-19 Bersamaan, Perlukah Kita Panik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *