Pandemi menyebabkan pembelajaran tatap muka di kampus ditiadakan. Hal ini menjadi salah satu pemicu memburuknya kesehatan mental pada orang dewasa muda. Selama pandemi, sebanyak 56% orang dewasa muda (usia 18-24) melaporkan gejala kecemasan dan/atau gangguan depresi. Apakah kamu salah satu di antaranya? Bagaimana langkah untuk mengatasi hal ini?

  1. Merasakan gejala kecemasan atau anxiety itu normal, kok!
    Kecemasan merupakan pengingat kita akan ancaman. Kecemasan juga dapat membantu kita mengambil keputusan untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain selama pandemi serta membuat kita merasa lebih bisa mengendalikan keadaan. Salah satunya, dengan menerapkan protokol kesehatan, menunda berkumpul bersama teman-teman dahulu, dan lebih rajin mencuci tangan
  2. Pastikan kamu mendapat informasi dari sumber terpercaya
    Misalnya, dari WHO, CDC, atau media massa yang kredibel. Selalu cek info yang kamu baca di medsos dan yang dibagikan lewat grup chat. Oh iya, hati-hati juga, jangan sampai kamu malah menjadi pihak yang menyebarkan informasi palsu alias hoax!
  3. Kamu merasa memiliki gejala COVID-19?
    Daripada tambah cemas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan orang yang kamu percaya, misalnya orang tuamu. Lebih baik mendapat penanganan yang tepat daripada gelisah sendirian dan malah menimbulkan hal yang tidak kamu inginkan
  4. Temukan distraks
    Saat pandemi seperti ini, mungkin kamu berpikir bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuat keadaanmembaik. Daripada pusing memikirkan hal tersebut, coba lakukan hal lain yang bisa mendistraksi pikiranmu. Beres-beres dan bersih-bersih rumah, nonton serial Netflix atau drama Korea, baca buku yang sudah lama menunggu untuk dibaca… semuanya bisa jadi pilihan untuk menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari
  5. Jalin silaturahmi dengan teman lamamu
    Sudah coba mengontak teman kecil atau teman sekolahmu dulu? Kalau sudah lama nggak berhubungan dengan mereka, mungkin saja pandemi ini bisa membuat kalian mengenang masa-masa sekolah bersama! 
    Tidak perlu bertemu, kamu bisa tetap terhubung dengan mereka melalui media sosial atau platform virtual meeting, seperti Zoom dan Google Meet. Selain itu, kamu juga bisa melakukan aktivitas bersama dengan memanfaatkan platform medsos zaman now, misalnya bikin video challenge estafet di Tiktok.
  6. Fokus pada diri sendiri
    Kamu punya keinginan belajar ini-itu, tapi selalu beralasan “nggak sempat”? Sekaranglah waktu yang tepat! Yuk, coba baca buku baru di luar genre favoritmu atau belajar main alat musik! 
  7. Pahami diri dan perasaanmu sendiri
    Ketika menghadapi perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah dengan menghadapinya. Kamu merasa lebih baik setelah bersedih? That’s okay!
    Setiap orang memproses perasaan mereka dengan cara yang berbeda. Entah lewat karya seni, curhat dengan teman, bersedih bersama untuk merasa terhubung, atau saling mengirimkan makanan dan ucapan selamat. Bagaimana denganmu?
  8. Berbaik hati pada diri sendiri dan orang lain
    Tahukah kamu, beberapa remaja menghadapi intimidasi dan kekerasan online akibat pandemi COVID-19 ini! Coba amati sekitarmu, jangan-jangan korbannya adalah temanmu sendiri! 
    Kamu bisa menolong korban bullying dengan mendorong mereka melapor, meminta bantuan, juga mendapat dukungan dari teman yang lain atau bahkan orang dewasa. Korban kekerasan mungkin berpikir bahwa tidak ada orang yang peduli dengannya. Dengan sedikit bantuanmu, keadaan bisa jadi membaik.
    Terakhir, berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai kita sendiri menyakiti orang lain lewat kata-kata, ya!

Kontributor: CAM

Sumber:

Panchal, N., Kamal, R., Cox, C., dan Garfield, R. (2021). The Implications of COVID-19 for Mental Health and Substance Use. Diakses melalui https://www.kff.org/coronavirus-covid-19/issue-brief/the-implications-of-covid-19-for-mental-health-and-substance-use/ pada 1 Mei 2021.

UNICEF (2021). How to protect your mental health during the coronavirus (COVID-19) pandemic. Diakses melalui https://www.unicef.org/serbia/en/how-protect-your-mental-health-during-coronavirus-covid-19-pandemic pada 1 Mei 2021. 

Kesehatan Mental Anak Muda Kena Imbas Pandemi, Bagaimana Mengatasinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *