Tahukah kamu bahwa kini deteksi COVID-19 menggunakan GeNose menjadi salah satu syarat seseorang untuk melakukan perjalanan panjang menggunakan kereta api? Dilansir dari Kompas, PT Kereta Api (KAI) kini menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat terhitung 5 Februari 2021. Penggunaan GeNose ini dapat menjadi salah satu alternatif selain rapid test antigen dan PCR. Bagi calon penumpang yang memilih GeNose sebagai alat deteksi, pemeriksaan dapat dilakukan maksimal 3 x 24 jam sebelum keberangkatan. 

Calon penumpang yang hendak melakukan pemeriksaan dengan menggunakan GeNose dilarang untuk merokok, makan serta minum (terkecuali air putih) selama 30 menit sebelum dilakukan pengambilan sampel hembusan nafas. Calon penumpang akan diminta untuk menghembuskan napas yang diambil melalui hidung dan membuangnya melalui mulut sebanyak tiga kali. Berbeda dengan metode pemeriksaan seperti rapid test antigen dan PCR, GeNose dapat memberikan hasil pemeriksaan cepat dalam hanya 3 menit saja. 

Apa itu GeNose dan bagaimana mekanisme kerja alat ini?

GeNose merupakan salah satu teknologi alat deteksi COVID-19 melalui hembusan nafas. Alat ini dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dan telah mengalami serah terima teknologi kepada Kemenristek pada 24 September tahun lalu. Dian Kesumapramudya Nurputra, selaku salah satu anggota tim peneliti GeNose mengungkapkan bahwa GeNose bekerja untuk mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi COVID-19 yang keluar bersama hembusan nafas. Hembusan nafas ini yang kemudian akan diperangkap di dalam kantong khusus dan dideteksi oleh beragam sensor sebelum kemudian diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial. Bagaimana Volatile Organic Compound (VOC) dapat dijadikan sebuah parameter dalam mendeteksi virus COVID-19?

Ketika berada dalam keadaan sakit, proses metabolism seseorang akan menghasilkan biomarkerBiomarker merupakan sebuah zat/materi yang terkandung di dalam sebuah organisme (dalam hal ini manusia) yang memberikan gambaran atas keberadaan penyakit, infeksi, atau paparan lingkungan sejenis lainnya. Berbagai jenis biomarker lainnya terdiri dari diagnostic, monitoring, response, predictive, prognostic, safety serta susceptibility biomarker. Dari beragam definisi yang dikeluarkan oleh NCBIdiagnostic biomarker yang didefinisikan sebagai biomarker yang berfungsi untuk mendeteksi kehadiran penyakit atau kondisi lain pada seorang pasien merupakan prinsip yang diterapkan oleh GeNose. Pada orang dewasa, kehadiran biomarker pada VOC mampu membedakan antara pasien yang menderita asma, pulmonary disease serta grup pasien kontrol yang berada dalam keadaan sehat. 

Studi yang dilakukan oleh Risto Orava, seorang profesor di University of Helsinki menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami inflamasi pada saluran pernapasan menghasilkan VOC yang berbeda bila dibandingkan dengan anak-anak yang sehat. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa inflamasi akibat COVID-19 juga dapat terdeteksi di dalam VOC. Dilansir dari The Lancet, studi deteksi COVID-19 berdasarkan hembusan nafas dengan bantuan gas chromatography – ion mobility spectrometry (GC-MS) juga menunjukkan hasil yang serupa dengan penelitian Risto Orava. Ruskiewicz, dkk. mengemukakan bahwa VOC yang dihembuskan oleh pasien yang dinyatakan positif COVID-19 dapat dibedakan dengan pasien yang sehat. Pada studi ini, VOC dari 98 pasien yang telah di diagnosa berbagai penyakit seperti asma, COPD, pneumonia akibat bakteri serta kondisi jantung dikumpulkan serta dianalisis menggunakan GC-MS. Analisis statistik mengidentifikasi gugus kimia seperti aldehid, keton, serta metanol merupakan senyawa yang membedakan COVID-19 dengan kondisi medis lainnya. Penelitian yang dilakukan di Edinburgh dan Dortmund memberikan hasil (sensitivitas/spesifitas) secara berurutan sebesar 82,4%/75% serta 90%/80%). Tentu saja studi ini masih memiliki keterbatasan pada jumlah sampel yang digunakan. Untuk memastikan efektivitas alat diperlukan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih besar. 

Terlepas dari keterbatasan data dan penelitian yang ada, pengembangan alat deteksi COVID-19 seperti GeNose tentu saja merupakan kabar baik untuk negara kita. Sebagaimana diungkapkan oleh Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, penggunaan GeNose dapat mengurangi ketergantungan Indonesia akan alat deteksi rapid testyang diimpor dari luar negeri. Oleh karena itu, mari kita senantiasa mendukung segala jenis pengembangan serta inovasi alat deteksi COVID-19 untuk mengakhiri pandemi di Indonesia!

Kontributor: Addina Shafiyya Ediansjah

Kenali Mekanisme Kerja Alat Pendeteksi Corona Dengan VOC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *