Apakah kamu pernah bertanya-tanya mengapa jarak untuk physical distancing diberlakukan sebesar 1, 1,5 atau 2 meter? Silahkan cermati tulisan berikut untuk mengetahui penjelasan ilmiahnya.

Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa virus transmisi virus COVID-19 terjadi saat seseorang mengalami bersin atau batuk. Serupa dengan mekanisme transmisi influenza, dalam jarak dekat, droplet yang dihasilkan dari mekanisme ini dapat melekat pada area mulut serta hidung seseorang – menulari orang yang bersangkutan ketika menyentuh wajah, mata atau jaringan mukosa lainnya. Organisasi World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menjaga jarak sebesar 1 meter untuk mengurangi resiko terkena infeksi ketika seseorang mengalami gejala batuk, bersin atau bahkan ketika berbicara satu sama lain. Jarak lebih besar direkomendasikan saat kita berada dalam ruangan tertutup, dengan penekanan bahwa “The further away the better” yang dapat diterjemahkan menjadi semakin jauh semakin baik. 

Ketika seseorang batuk, bersin, berbicara atau membuang nafas, droplet yang dihasilkan melalui proses ini akan jatuh pada permukaan atau lantai terdekat secara gravitasi. Objek serta material yang dapat menjadi media melekatnya penyebab infeksi (dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan fomites) dapat mentransmisikan virus ketika mengalami kontak dengan host. Namun tidak semua droplet cukup berat untuk langsung terjatuh dengan bantuan gravitasi. Beberapa droplet yang dihasilkan dari seseorang yang terinfeksi akan membentuk partikel aerosol atau dikenal dengan istilah “bioaerosol” dengan diameter aerodinamik yang lebih kecil sehingga berpotensi untuk mentransmisikan virus melalui udara. Aerosol yang telah terkontaminasi ini dapat mentransmisikan virus melalui inhalasi sehingga virus kian menyebar. Fenomena seperti evaporasi juga turut berkontribusi terhadap reduksi ukuran droplet. Tabel berikut menunjukkan karakteristik droplet serta aerosol yang dihasilkan dari proses respirasi seseorang yang mengalami infeksi saluran pernafasan (Duguid, 1945). 

AktivitasJumlah droplet dan aerosol dihasilkan (1-100 µm)Kehadiran aerosol(1-2 µm)Sumber area
Respirasi normal (5 menit)Tidak ada – Beberapa BeberapaHidung
Menghembuskan nafas kuat 1 kali BeberapaHidung
Berhitung dengan keras Beberapa – Beberapa ratusSeringBagian depan mulut
Batuk 1 kali (mulut terbuka)Beberapa belas – Beberapa ratusBeberapaMuka
Bersin 1 kaliBeberapa ratus – Beberapa ribuSeringBagian depan mulut
 Beberapa ratus ribu – Beberapa jutaBeberapa – BeberapaSering BeberapaBagian depan mulut Hidung dan muka

Berdasarkan tabel di atas, ditemukan bahwa 95% partikel memiliki ukuran lebih kecil dari 100 µm dengan mayoritas berada di antara 4-8 µm sehingga berpotensi besar untuk ditransmisikan melalui udara. Sebuah studi oleh Wells (1934) menunjukkan bahwa droplet berukuran besar (> 100 µm) akan jatuh secara gravitasi dengan jarak 2 m dari sumber. Hal ini kemudian disanggah oleh Xie et al. (2007) berdasarkan uji laboratorium dengan memperhatikan parameter seperti kecepatan hembusan nafas serta kelembaban relatif udara, droplet berukuran 60-100 µm dapat terbawa hingga 6 m pada kecepatan 50 m/s, dimana kecepatan ini mensimulasikan mekanisme bersin. Droplet berukuran sama ini kemudian dapat terbawa hingga 2 m pada kecepatan 10 m/s, dimana kecepatan ini mensimulasikan mekanisme batuk. Penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh Bourouiba (2020) dan Loh et al. (2020) menunjukkan bahwa droplet yang membawa patogen dapat ditransmisikan sejauh 7-8 m saat bersin serta maksimal 4,5 m saat batuk. Apa yang menyebabkan perbedaan antara jarak aman berdasarkan berbagai penelitian dengan panduan protokol kesehatan COVID-19 yang kita jalankan saat ini?

Lintasan droplet serta aerosol dari seorang pasien terinfeksi saat (a) bersin dengan kecepatan 50 m/s selama 0,12 detik, (b) batuk dengan kecepatan 10 m/s selama 0,2 detik dan (c) menghembuskan nafas dengan kecepatan 1 m/s selama 1 detik 

Diskrepansi jarak aman yang dikeluarkan dari berbagai penelitian dengan yang direkomendasikan oleh panduan instansi kesehatan seperti WHO atau CDC ini bisa saja disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda. Mayoritas penelitian yang telah disebutkan telah dilakukan dalam sebuah laboratorium dengan lingkungan yang terkontrol. Di sisi lain, jarak aman yang dikeluarkan oleh WHO ini tentu saja akan berlaku secara efektif ketika diiringi dengan penggunaan masker saat beraktivitas. Bagaimanapun, praktik physical distancing ini tentu saja harus dilakukan bersamaan dengan tindakan preventif sehari-hari lainnya seperti penggunaan masker, tidak menyentuh area wajah dengan tangan kotor serta mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir selama 20 detik. 

Kontributor: Addina Shafiyya Ediansjah

Di Balik Jarak Physical Distancing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *